Santapan Harian - Ayub 2:1-10

Ayub 2:1-10

Judul: Pilihan dan konfirmasi

Tampaknya Iblis masih belum puas bila belum mendengar kata hujatan terhadap Tuhan keluar dari mulut Ayub. Sebab itu ia masih menggugat Ayub di hadapan Tuhan. Menurut Iblis, meskipun Ayub kehilangan harta benda dan anak-anaknya, toh dia masih segar bugar. Orang pasti rela kehilangan apa saja asalkan dirinya aman dan nyaman (4-5). Lalu atas seizin Tuhan, Ayub pun tertimpa barah dari ujung rambut sampai ujung kakinya (7).

Iblis tidak dapat melakukan sesuatu apapun tanpa seizin Tuhan. Pada bagian ini, tidak terlihat adanya komentar Ayub atas penyakit yang menimpa dia.

Namun sakit yang diderita Ayub membangkitkan komentar negatif dari istri Ayub (9). Mengalami datangnya penderitaan yang bertubi-tubi, mungkin membuat istri Ayub merasa bahwa Tuhan telah berlaku tidak adil terhadap Ayub. Sebagai istri, ia tahu benar bahwa suaminya memiliki kehidupan yang saleh, karena itu sepatutnya Ayub menerima upah atas kesalehannya. Ini justru sebaliknya, Ayub seolah-olah telah melakukan dosa mahaberat sehingga ia menerima ganjaran yang begitu mengerikan. Bukankah sewajarnya jika Ayub mengutuki Tuhan yang demikian?

Akan tetapi, bukan demikian cara pandang Ayub terhadap semua penderitaan yang dia alami. Meskipun ia tidak memahami mengapa ia harus mengalami tragedi itu, ia tidak mau berdosa terhadap Tuhan. Maka penderitaan Ayub menghasilkan penyerahan hidup yang indah kepada Tuhan (10). Ia tetap beriman kepada Allah meskipun tidak memperoleh imbalan atas imannya itu.

Respons Ayub menunjukkan bahwa pandangan Iblis terbukti salah. Dasar hubungan Tuhan dengan manusia bukanlah balas jasa, di mana perbuatan baik akan menghasilkan kemakmuran dan perbuatan buruk akan mendatangkan hukuman.

Oleh sebab itu, cara pandang kita pun seharusnya berubah: jangan beriman dengan pamrih! Jalanilah kehidupan beriman dengan keyakinan penuh bahwa Tuhan berkuasa atas hidup kita sehingga apa pun yang terjadi atas hidup kita, Ia tetap memegang kendali.

Santapan Harian
diambil dari Sabda.org

Comments