Renungan Harian | Bersyukur Dalam Ketidakpastian - Ps. Philip Mantofa

Renungan Harian Kristen

Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Matius 11:25-27).

Konteks dari Matius 11:25-27 adalah Yesus yang mengalami penolakan di Khorazim, Betsaida, Kapernaum. Meskipun demikian, Yesus tetap bersyukur. Bersyukur adalah obat yang pasti di tengah ketidakpastian dalam hati. Bersyukur membuat kita melihat sisi positif dari kehidupan, dan membuat hati kita tenang. Ketika sekeliling tidak memberi harapan, kita bisa bersyukur dan berharap kepada yang di Atas. Tuhan akan memberi harapan dan semangat baru buat kita.


Tiga Alasan 

Tiga alasan untuk bersyukur, bahkan di dalam ketidakpastian:

Pertama, bersyukur karena nama kita sudah tercatat di Kitab Kehidupan! Penghiburan tertinggi dalam hidup yang sementara di dunia ini bukanlah terletak pada solusi untuk setiap masalah kita, melainkan pada pewahyuan bahwa pada akhirnya kita akan ke sorga. 

Kedua, bersyukur untuk semua yang masih kita miliki! Semiskin-miskinnya seseorang, pastilah ia masih mempunyai “5 roti dan 2 ikan”. Masih memiliki hidup dan orang-orang yang kita sayangi dan sayang kepada kita. Orang yang paling tidak berbakat pun Tuhan beri satu talenta. 

Ketiga, bersyukur untuk janji-janji Allah di hidup kita! 

Allah tidak pernah berjanji akan memberikan sukacita tanpa airmata, langit cerah tanpa hujan, atau bunga bermekaran tanpa layu, tapi dia selalu berjanji akan memberikan kekuatan dan masa depan yang cerah bagi kita yang terus percaya kepada-Nya. Selama kita masih hidup dan tidak menyerah, atas perkenanan Tuhan, perubahan yang baik bisa terjadi. 

Ucapan syukur adalah terang bagi pikiran yang gelap karena ketidakpastian. 


Posisi 

Doa adalah persekutuan pribadi dengan Tuhan. Ketika kita berdoa, pastikan kita menempatkan diri secara tepat, disertai dengan roh yang takut akan Tuhan dan ketaatan terhadap firman. 

Pertama, pastikan kita datang dalam doa kepada Allah Bapa sebagai anak. Meskipun Tuhan memposisikan diriNya sebagai Teman dan Sahabat, tetapi kedudukan-Nya tidak pernah setara dengan manusia. Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan Tuhan atau memanggil Dia dengan sebutan yang sembarangan.

Kedua, tanggalkan segala agenda pribadi. Berilah “ruang” secara sengaja untuk Tuhan berbicara dan bekerja. Pastikan memiliki hati hamba, yang melakukan bagiannya dengan setia dan berserah penuh kepada Tuannya.

Ketiga, miliki niat untuk memperbaharui akal budi kita supaya bisa berkenan kepada Tuhan dan bisa membedakan mana yang baik dan benar. Menjadi berkenan bukanlah sebuah misteri, sebab keputusan itu ada di tangan kita. “Misteri” Allah ialah pertolongan-Nya, tiada terduga cara-cara-Nya.

Sebenarnya, Tuhan mempunyai solusi atas setiap pergumulan kita. Namun Ia menginginkan pembentukan hati dan karakter kita melebihi sekedar solusi instan. Datanglah kepada Tuhan, belajarlah untuk menangkap isi hati-Nya, berubahlah, maka pintu-pintu rahmat Tuhan akan terbuka!

Terakhir, milikilah hati yang tunduk kepada Bapa, yakni hati yang tahu berterima kasih. Ada beberapa hal yang tidak bisa diajarkan, melainkan hanya bisa ditangkap dengan iman. Jadi, percaya saja! Tuhan sedang bekerja bagi Anda! Tuhan Yesus memberkati.

Disadur dari khotbah Ps. Philip Mantofa, 3 November 2019, Ibadah 1
Gereja Mawar Sharon


Comments