Dasar-Dasar Iman (Fundamentals of Faith)

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (Ibrani 11:6).
Sebagai orang percaya, iman kita dibangun di atas fondasi keberadaaan Allah, dan perlakuanNya terhadap orang yang mencariNya berbeda dengan perlakuanNya terhadap orang yang tidak mencariNya. Segera setelah benar-benar mempercayai kedua hal itu, kita mulai menyenangkan Allah, karena kita segera mencariNya. Makna dari mencari Allah adalah (1) mempelajari kehendakNya, (2) menaatiNya, dan (3) percaya janji-janjiNya. Ketiga makna itu hendaknya menjadi komponen perjalanan kita sehari-hari.

Bab ini berfokus pada perjalanan iman kita. Tetapi, banyak orang hanya mengutamakan iman pada titik ekstrim yang tidak Alkitabiah, terutama mengutamakan kemakmuran materi. Karena itulah, sebagian orang ingin sekali melakukan pendekatan kepada pokok masalah itu. Hanya karena beberapa orang tenggelam di sungai bukanlah alasan kita untuk berhenti minum air. Kita bisa tetap bersikap seimbang dan mengutamakan Alkitab. Alkitab memiliki banyak hal untuk diajarkan mengenai pokok persoalan di atas, dan Allah ingin kita untuk menguji iman kita dalam banyak janjiNya.

Yesus memberi contoh orang yang beriman kepada Allah, dan Ia mengharapkan murid-muridNya untuk meneladaniNya. Demikian juga, pelayan pemuridan harus berupaya untuk menjadi teladan kesetiaan dalam Tuhan, dan mengajarkan murid-muridnya untuk percaya kepada janji-janji Tuhan. Hal ini sangat penting. Kita mustahil menyenangkan Allah tanpa iman, dan juga mustahil menerima jawaban doa-doa tanpa iman (lihat Matius 21:22; Yakobus 1:5-8). Alkitab jelas mengajarkan bahwa orang yang ragu-ragu takkan mendapat berkat-berkat yang diterima oleh orang percaya. Yesus berkata, “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” (Markus 9:23). 

Definisi Iman (Faith Defined)

Definisi iman menurut Alkitab terdapat dalam Ibrani 11:1:
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Dari definisi itu, kita pelajari beberapa karakter iman. Pertama, orang beriman mendapatkan jaminan atau kepercayaan diri. Iman berbeda dengan pengharapan, karena iman adalah “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan.” Pengharapan selalu memberi peluang kepada keraguan. Pengharapan selalu berkata “semoga.” Misalnya, saya dapat berkata, “Saya harap hari ini hujan sehingga kebunku akan terairi.” Saya ingin hujan turun, tetapi saya tidak yakin apakah hari ini hujan akan turun. Di lain pihak, iman selalu yakin, “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan.”

Hal yang disebut sebagai iman atau keyakinan sering bukanlah iman menurut definisi Alkitab. Misalnya, orang mungkin memperhatikan awan gelap di langit, dan berkata, “Saya percaya hari ini hujan akan turun.” Tetapi, ia tidak yakin pasti bahwa hujan akan turun —ia hanya berpikir ada peluang besar hujan mungkin akan turun. Ini bukanlah iman menurut Alkitab. Iman menurut Alkitab tidak mengandung unsur keraguan. Iman tak memberikan ruang bagi hasil apapun selain hal yang Tuhan sudah janjikan. 

Iman adalah Bukti dari Segala Sesuatu yang Tidak Kita Lihat (Faith is the Conviction of Things Not Seen)

Definisi dalam Ibrani 11:1 juga menyatakan bahwa iman adalah “bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Dengan demikian jika kita bisa lihat sesuatu atau rasakan dengan panca indera kita, maka iman tidak diperlukan.

Jika seseorang berkata, “Karena beberapa alasan yang tak dapat saya jelaskan, saya beriman bahwa ada buku di tangan anda.” Anda tentu berpikir ada sesuatu yang tak beres dengan orang itu. Anda katakan, “Anda tak perlu percaya bahwa saya memegang buku di tangan saya, karena anda dapat melihat saya yang sedang memegang buku.”

Iman bukanlah wilayah yang tak terlihat. Misalnya, ketika saya menulis kata-kata ini, saya percaya ada malaikat di dekat saya. Nyatanya, saya yakin akan hal itu. Bagaimana saya bisa begitu yakin? Apakah saya telah melihat malaikat? Tidak. Apakah saya telah merasakan atau mendengar malaikat terbang melintas? Tidak. Jika saya telah melihat, mendengar atau merasakan ada malaikat, maka saya tak harus percaya ada malaikat di dekat saya —saya tahu hal itu. 

Jadi apa yang membuat saya sangat yakin akan kehadiran malaikat? Keyakinanku berasal dari salah satu janji Allah. Dalam Mazmur 34:8, Ia berjanji, “Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.” Saya tidak punya bukti untuk kepercayaan saya selain Firman Tuhan. Inilah iman sejati menurut Alkitab —“bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Orang-orang di dunia sering memakai ungkapan, “Lihat dulu baru percaya.” Tetapi dalam kerajaan Allah, berlaku hal sebaliknya: “Percaya dulu baru melihat.”

Saat kita imani salah satu janji Allah, seringkali muncul keadaan yang menggoda kita untuk merasa ragu, atau kita melewati waktu ketika keadaan tampak seolah-olah Allah tak memenuhi janjiNya karena keadaan kita tak berubah. Dalam keadaan demikian, kita perlu melawan rasa ragu, menjaga dengan iman, dan tetap yakin di dalam hati bahwa Allah selalu memenuhi janjiNya. Tak mungkin Allah berdusta (lihat Titus 1:2). 

Cara Kita Mendapatkan Iman (How Do We Acquire Faith?)

Karena iman didasarkan pada janji-janji Allah, hanya ada satu sumber untuk iman yang Alkitabiah --Firman Tuhan. Roma 10:17 berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17, tambahkan penekanan). Firman Tuhan mengungkapkan kehendakNya. Hanya dengan mengetahui kehendak Tuhan, kita dapat mempercayainya.

Jadi, jika anda ingin memiliki iman, dengarkan (atau bacalah) janji-janji Allah. Iman tidak datang hanya dengan berdoa dan berpuasa untuk mendapatkannya, atau menyuruh orang menumpangkan tangan bagi anda untuk memindahkan iman itu. Iman hanya datang dari pendengaran akan Firman Tuhan, dan di saat anda mendengarnya, anda masih harus membuat keputusan untuk mempercayainya. 

Di luar konteks mendapatkan iman, iman kita dapat juga tumbuh makin kuat. Alkitab menyebutkan berbagai tingkatan iman —dari iman yang kecil kepada iman sebesar memindahkan gunung. Iman bertumbuh makin kuat ketika dipupuk dan diterapkan, seperti halnya otot manusia. Kita harus terus memupuk iman kita dengan merenungkan Firman Tuhan. Kita harus terapkan iman dengan bertindak dan bereaksi terhadap segala sesuatu sesuai Firman Tuhan. Ini termasuk saat-saat ketika kita menghadapi berbagai masalah, kekuatiran dan kegelisahan. Allah tidak ingin anak-anakNya kuatir tentang apapun, tetapi sebaliknya mempercayakanNya dalam setiap situasi (lihat Matius 6:25-34; Filipi 4:6-8; 1 Petrus 5:7). Tidak kuatir adalah satu cara agar kita dapat menerapkan iman kita.

Jika kita benar-benar percaya perkataan Allah, kita akan bertindak dan berbicara seolah-olah perkataan itu benar. Jika anda percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, maka anda akan bertindak dan berbicara seperti itu. Jika anda percaya bahwa Allah akan menyediakan semua keperluan anda, anda akan bertindak dan berbicara seperti itu. Jika anda percaya bahwa Allah mau anda tetap sehat, anda akan bertindak dan berbicara seperti itu. Alkitab berisi banyak contoh orang yang, di tengah keadaan tak menyenangkan, bertindak dengan imannya kepada Allah dan akibatnya mereka mengalami mujizat. Kita perhatikan beberapa contoh dalam bab ini dan bab tentang kesembuhan ilahi. (Untuk beberapa contoh, lihat 2 Raja-Raja 4:1-7; Markus 5:25-34; Lukas 19:1-10; dan Kisah Para Rasul 14:7-10). 

Iman berasal dari Dalam Hati (Faith is of the Heart)

Iman menurut Alkitab tak berfungi di dalam pikiran kita, tetapi di dalam hati kita. Paulus menuliskan, “Karena dengan hati orang percaya” (Roma 10:10a). Yesus berkata,
Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. (Markus 11:23, tambahkan penekanan).
Sangat mungkin anda merasa ragu tetapi masih beriman di dalam hati dan menerima janji-janji Allah. Ternyata, sebagian besar waktu ketika kita berupaya mempercayai janji-janji Allah, maka pikiran kita akan diserang rasa ragu, dengan pengaruh panca-indera kita dan kebohongan Setan. Selama melewati waktu itu kita perlu mengganti pikiran yang meragukan janji-janji Allah dan beriman teguh tanpa pikiran yang terombang-ambing. 

Kekeliruan Iman yang Lazim Terjadi (Common Faith Mistakes)

Kadang-kadang ketika kita mencoba menerapkan iman kepada Allah, kita gagal menerima apa yang kita inginkan karena kita tidak memfungsikan iman menurut Firman Tuhan. Salah satu kekeliruan yang paling lazim muncul terjadi ketika kita mencoba mempercayai sesuatu yang Allah belum janjikan kepada kita.

Misalnya, tindakan suami-istri yang percaya kepada Allah yang sanggup memberi anak adalah sesuai Alkitab, karena Firman Tuhan berisi janji yang olehnya mereka dapat tetap bertahan. Saya kenal pasangan suami-istri yang, menurut dokter, tak akan bisa punya anak. Tetapi, mereka memilih percaya kepada Allah, dan berdiri atas dua janji yang disebutkan di bawah ini, dan kini keduanya memiliki anak-anak yang sehat:
Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu. Tidak akan ada di negerimu perempuan yang keguguran atau mandul. Aku akan menggenapkan tahun umurmu. (Keluaran 23:25-26).
Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa: tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di antaramu, ataupun di antara hewanmu. (Ulangan 7:14).
Janji-janji itu pasti memberi dorongan kepada pasangan yang belum punya anak! Tetapi, mencoba percaya secara khusus akan mendapatkan anak adalah kisah lainnya. Dalam Alkitab tidak ada janji khusus yang menyatakan kepada kita sehingga kita dapat menentukan jenis kelamin anak nanti. Kita harus tetap di dalam batas-batas Alkitab jika kita mau iman kita dapat berfungsi. Kita hanya mempercayai Allah untuk mendapatkan janjiNya kepada kita.

Perhatikan janji Firman Tuhan, lalu tentukan keyakinan kita berdasarkan janji itu:
Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit. (1 Tesalonika 4:16)
Berdasarkan ayat itu, kita percaya bahwa Yesus akan kembali.

Tetapi, dapatkah kita berdoa, meyakini bahwa Yesus akan kembali besok hari? Tidak, karena penegasan ayat Alkitab di atas dan tak ada janji lain dalam Alkitab bagi kita. Nyatanya, Yesus berkata bahwa tak seorangpun tahu hari dan jam kedatanganNya.

Sudah tentu, kita dapat berdoa sambil berharap Yesus akan kembali besok, tetapi tak ada jaminan hal itu akan terwujud. Ketika berdoa dengan iman, yakinlah apa yang kita doakan akan terjadi karena kita memiliki janji Allah atas iman kita.

Berdasarkan ayat Alkitab yang sama, kita percaya bahwa tubuh setiap orang percaya yang telah meninggal akan dibangkitkan kembali ketika Yesus datang. Tetapi bisakah kita beriman sehingga kita, yang masih hidup ketika Kristus kembali, akan menerima tubuh yang dibangkitkan kembali di saat yang sama dengan yang diterima oleh “orang-orang yang mati dalam Kristus”, atau mungkin bahkan sebelum mereka terima? Tidak, karena ayat Alkitab itu menjanjikan hal berbeda: “orang-orang yang mati dalam Kristus akan bangkit lebih dulu.” Nyatanya, ayat berikut berkata, “sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.” (1 Tesalonika 4:17). Jadi, “orang-orang yang mati dalam Kristus” akan menjadi yang pertama yang menerima tubuh yang dibangkitkan kembali ketika Yesus kembali. Firman Tuhan menjanjikan demikian.

Jika kita percaya Allah untuk mendapatkan sesuatu, kita harus yakin kehendak Tuhan bagi kita untuk menerima apa yang kita mau. Kehendak Tuhan hanya dapat ditentukan dengan menguji janji-janjiNya yang terdapat dalam Alkitab.

Iman bekerja dengan cara yang sama dalam ranah alami. Anda akan dianggap bodoh bila percaya bahwa saya akan berkunjung ke rumah anda besok siang jika saya belum berjanji untuk melakukan kunjungan itu. 

Iman, tanpa janji sebagai panutan, bukanlah iman —itu kebodohan. Jadi, sebelum anda minta sesuatu dari Allah, tanya diri anda dahulu —ayat mana dalam Alkitab yang memberikan janji kepada saya tentang apa yang saya inginkan? Jika anda tidak memiliki janji, maka anda tak punya dasar atas iman anda. 

Kesalahan Umum Kedua (A Second Common Mistake)

Banyak kali orang Kristen mencoba mempercayai salah satu janji Allah agar menjadi nyata dalam kehidupannya tanpa memenuhi semua syarat yang menyertai janji itu. Misalnya, saya mendengar ada orang Kristen yang mengutip Mazmur 37 dan berkata: “Alkitab berkata bahwa Allah akan memberikan kepadaku apa yang diinginkan hatiku. Itulah yang kupercayai.”

Tetapi, Alkitab tidak hanya berkata bahwa Allah akan memenuhi keinginan hati kita. Berikut ini perkataan sebenarnya:
Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak. (Mazmur 37:1-5).
Beberapa syarat harus dipenuhi jika kita percaya bahwa Allah akan memenuhi keinginan hati kita. Faktanya, saya hitung ada delapan syarat dalam janji di atas. Jika tidak memenuhi syarat-syarat itu, kita tak berhak menerima berkat yang dijanjikan. Iman kita tak memiliki dasar.
Orang Kristen juga suka mengutip janji dalam Filipi 4:19: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Tetapi, apakah ada persyaratan terhadap janji itu? Sudah pasti.

Jika anda periksa konteks janji dalam Filipi 4:19, anda akan temukan bahwa bukanlah janji yang diberikan kepada semua orang Kristen. Sebaliknya, janji itulah yang disampaikan kepada orang Kristen yang adalah pemberi itu sendiri. Paulus tahu Allah akan memenuhi semua kebutuhan jemaat Filipi karena mereka baru saja mengirimkannya persembahan. Karena mereka mencari lebih dahulu Kerajaan Allah seperti perintah Yesus, Allah akan memenuhi semua kebutuhan mereka, seperti janji Yesus (lihat Matt 6:33). Banyak janji dalam Alkitab, terkait dengan tindakan Allah dalam memenuhi kebutuhan materi kita, memberikan syarat agar kita lebih dulu menjadi orang yang suka memberi.

Tidaklah patut kita berpikir bahwa kita mempercayai Allah demi memenuhi kebutuhan kita jika kita tidak menaati perintah-perintahNya dalam hal uang kita. Sesuai perjanjian lama itu, Allah berkata kepada umatNya bahwa mereka dikutuk karena menahan perpuluhan, tetapi Ia berjanji kepada mereka jika mereka taat memberi perpuluhan dan persembahan (lihat Maleakhi 3:8-12).

Banyak berkat yang dijanjikan bagi kita dalam Alkitab tergantung pada ketaatan kita kepada Allah. Karena itu, sebelum kita mempercayai Allah untuk mendapatkan sesuatu, kita lebih dulu harus bertanya: “Apakah saya memenuhi syarat yang menyertai janji itu?” 

Kesalahan Umum Ketiga (A Third Common Mistake)

Dalam Perjanjian Baru, Yesus menyatakan syarat yang berlaku setiap kali kita berdoa dan memohonkan sesuatu:
Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. (Markus 11:22-24, tambahkan penekanan).
Syarat yang Yesus nyatakan adalah keyakinan bahwa kita telah menerima ketika kita berdoa. Banyak orang Kristen keliru mencoba menerapkan imannya dengan meyakini bahwa mereka telah menerima ketika mereka melihat jawaban atas doa mereka. Mereka percaya akan menerima dan bukannya mereka telah menerima. 

Ketika kita meminta sesuatu dari Allah yang telah dijanjikanNya kepada kita, kita harus percaya kita menerima jawaban ketika kita berdoa dan mulai mengucap syukur kepada Tuhan atas jawaban doa nanti. Kita harus percaya bahwa kita telah mendapat jawaban sebelum kita melihatnya dan bukan setelah kita melihatnya. Kita harus memohon kepada Allah dengan ucapan syukur, seperti yang ditulis oleh Paulus:
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6).
Seperti saya sebutkan sebelumnya, jika kita beriman di dalam hati, biasanya kata-kata dan tindakan kita akan selaras dengan keyakinan kita. Yesus berkata, “…. yang diucapkan mulut meluap dari hati.” (Matius 12:34).

Beberapa orang Kristen melakukan kesalahan dengan berkali-kali meminta hal yang sama, yang mengungkapkan mereka belum percaya bahwa mereka telah menerima. Jika kita percaya bahwa kita telah menerima ketika kita berdoa, maka tak perlu mengulang-ulang permohonan yang sama. Meminta berkali-kali untuk hal yang sama adalah wujud keraguan bahwa Allah mendengarkan kita ketika pertama kali kita meminta. 

Tidakkah Yesus Melakukan Permohonan yang Sama Lebih dari Sekali? (Didn’t Jesus Make the Same Request More Than Once?)

Yesus tentu saja membuat permohonan yang sama tiga kali dalam satu waktu ketika Ia berdoa di Taman Getsemani (lihat Matius 26:39-44). Ingat bahwa Ia tidak berdoa dalam iman menurut kehendak Allah. Nyatanya, ketika Ia berdoa tiga kali untuk mendapatkan kesempatan demi menghindari penyaliban, Ia tahu permohonanNya berbeda dengan kehendak Tuhan. Itu sebabnya Ia menyerahkan diriNya kepada kehendak BapaNya tiga kali dalam doa yang sama.

Doa yang sama dari Yesus sering digunakan secara keliru sebagai model bagi semua doa, seperti diajarkan oleh sebagian orang bahwa kita harus selalu mengakhiri setiap doa dengan kata-kata, “Jika itu kehendakMu”, atau “Bukan kehendakKu tetapi kehendakMu yang jadi”, mengikuti teladan Yesus.
Jadi harus diingat bahwa Yesus membuat permohonan yang, Dia tahu, bukan kehendak Allah. Mengikuti teladanNya itu ketika kita berdoa menurut kehendak Tuhan adalah keliru dan menunjukkan kurangnya iman. Misalnya, untuk berdoa, “Tuhan, saya mengaku dosa kepadaMu dan memohon Engkau mengampuni saya jika itu kehendakMu”, berarti bahwa hal itu bisa saja bukan kehendak Tuhan untuk mengampuni dosa saya. Sudah tentu, kita tahu bahwa Alkitab berjanji bahwa Allah akan mengampuni jika kita mengaku dosa-dosa kita (lihat 1 Yohanes 1:9). Jadi, dosa itu mengungkapkan kurangnya iman seseorang kepada kehendak Allah.

Yesus tidak mengakhiri setiap doa dengan kata-kata, “Tetapi bukan kehendakKu, tetapi kehendakMu yang jadi.” Hanya ada satu contoh doaNya dengan cara itu, dan ketika Ia Sendiri berkomitmen untuk melakukan kehendak BapaNya, dan tahu penderitaan yang Ia jalani oleh karena itu. 

Di lain pihak, bila kita tidak tahu kehendak Tuhan dalam situasi tertentu karena Ia belum mengungkapkannya, maka kata-kata yang layak untuk mengakhiri doa kita, “Jika itu kehendakMu.” Yakobus menulis,
Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. (Yakobus 4:13-16).
Apa yang harus kita lakukan ketika kita buat permohonan sesuai janji Tuhan dan memenuhi semua syarat? Kita harus terus bersyukur kepada Tuhan atas jawaban yang kita yakin telah kita terima sampai hal itu terwujud. Melalui iman dan kesabaran kita mewarisi janji-janji Allah (Ibrani 6:12). Setan tentunya coba mengalahkan kita dengan mengirimkan keraguan, dan kita harus sadari bahwa pikiran kita adalah medan perang. Ketika perasaan ragu menyerang pikiran kita, kita perlu menggantinya dengan pikiran berdasarkan janji-janji Allah dan menyebut Firman Tuhan dengan iman. Ketika kita lakukan, setan pasti lari (lihat Yakobus 4:7; 1 Petrus 5:8-9). 

Contoh Iman yang Bekerja (An Example of Faith in Action)

Contoh klasik dalam Alkitab tentang iman yang bekerja adalah kisah Petrus berjalan di atas air. Kita baca kisahnya dan pahami pelajaran apa yang didapat dari kisah itu.
Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri . Ketika hari sudah malam, Ia sendiri an di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." (Matius 14:22-33).
Perlu dicatat, suatu waktu murid-murid Yesus dalam perahu terjebak oleh badai angin di Danau Galilea (lihat Matius 8:23-27). Selama kejadian itu, Yesus sudah bersama-sama dengan mereka, dan setelah Ia menenangkan badai angin dengan hardikanNya, Ia lalu menegur murid-muridNya karena tidak punya iman. Sebelum mereka memulai perjalanan, Ia telah berkata bahwa Ia mau mereka untuk menyeberang ke sisi lain di danau itu (lihat Markus 4:35). Tetapi, ketika angin ribut muncul, mereka lebih yakin akan keadaan-keadaan sekitar, dan pada satu titik mereka yakin mereka akan segera mati. Paling kurang, Yesus mengharapkan mereka untuk tidak kuatir.

Tetapi, kali ini Yesus mengutus mereka melintasi Danau Galilea. Tentu Ia dipimpin oleh Roh untuk melakukan demikian, dan pasti Allah tahu bahwa malam itu akan muncul angin yang menghadang perahu mereka. Jadi Tuhan izinkan mereka menghadapi tantangan kecil bagi iman mereka. Karena hadangan angin itu, perjalanan yang biasanya ditempuh dalam beberapa jam memakan waktu semalam penuh. Kita harus akui daya-tahan murid-murid, tetapi kita heran jika salah seorang dari mereka memiliki iman untuk meredakan angin ribut, satu hal yang telah mereka lihat ketika Yesus melakukannya beberapa hari sebelumnya. Yang menarik, Injil Markus menulis bahwa ketika Yesus datang berjalan di atas air ke arah mereka, “Ia hendak melewati mereka” (Markus 6:48). Ia hampir meninggalkan mereka sehingga mereka menghadapi masalah sendiri ketika secara ajaib Ia mengikuti mereka! Dengan begitu, tampaknya mereka tidak berdoa atau mencari Allah. Saya heran berapa kali Sang Pembuat-Mujizat mengikuti kita ketika kita bersusah payah mengayuh dayung kehidupan melawan angin kesukaran. 

Prinsip-prinsip Iman (Principles of Faith)

Yesus menjawab tantangan Petrus dengan satu kata: “Kemarilah.” Jika Petrus berusaha berjalan di atas air sebelum perkataan itu, ia pasti langsung tenggelam, karena ia tak punya janji sebagai dasar imannya. Ia mungkin melangkah dengan praduga bukannya dengan iman. Demikian juga, bahkan setelah Yesus melontarkan ucapanNya, bila murid lainnya mungkin mencoba berjalan di atas air, ia juga pasti segera tenggelam, ketika Yesus memberikan janjiNya hanya kepada Petrus. Tak satupun dari mereka bisa memenuhi syarat dari janji tersebut, karena tak satupun dari mereka adalah Petrus. Demikian juga, sebelum kita mempercayai salah satu janji Allah, yakinlah bahwa janji itu berlaku bagi kita dan kita memenuhi syarat janji itu.

Petrus keluar dari perahu dan berjalan di atas air. Saat itulah ia percaya, walaupun dia berteriak karena takut melihat hantu beberapa detik sebelumnya, juga dia ragu-ragu ketika ia mengambil langkah pertama. Tetapi untuk menerima mujizat, ia harus bertindak dengan imannya. Seandainya ia memegang tiang perahu dan menurunkan ujung kakinya ke samping perahu untuk mengetahui apakah air dapat menahan berat tubuhnya, ia tak akan pernah mengalami mujizat. Demikian juga, sebelum kita menerima mujizat, kita harus benar-benar percaya kepada janji Allah pada satu saat, lalu bertindak atas apa yang kita yakini. Ada saatnya iman kita diuji. Terkadang waktu itu singkat; terkadang lama. Tetapi akan ada saatnya ketika kita harus mengesampingkan akal pikiran kita dan bertindak dengan Firman Tuhan. 

Petrus mulanya berjalan maju dengan baik. Tetapi ketika ia berpikir kemustahilan dari apa yang sedang dilakukannya, dengan melihat angin dan ombak, ia jadi takut. Mungkin ia berhenti berjalan, takut membuat langkah berikut. Dan barangsiapa yang telah mengalami mujizat mendapati dirinya sedang tenggelam. Kita harus tetap teguh dalam iman ketika kita sudah memulainya, dengan bertindak di atas iman kita. Tetaplah maju.

Petrus tenggelam karena ia ragu. Seseorang sering tak suka menyalahkan dirinya sendiri karena kurangnya iman. Sebaliknya ia menyalahkan Tuhan. Tetapi bagaimana, menurut anggapan anda, reaksi Yesus jika Ia mendengarkan Petrus, ketika ia kembali dengan aman ke dalam perahu, dengan berkata kepada murid-murid lain, “Sungguh hanya oleh kehendak Tuhan bagiku untuk menempuh setengah jarak ke arah Yesus”?

Petrus gagal karena ia menjadi takut dan kehilangan imannya. Itu faktanya. Yesus tidak mengecamnya, tetapi segera mengulurkan tanganNya untuk memberi pegangan yang teguh. Dan Ia segera bertanya kepada Petrus mengapa ia ragu. Petrus tak punya alasan untuk ragu, karena Firman dari Anak Tuhan lebih pasti dari apapun. Kita tak pernah punya alasan yang tepat untuk meragukan Firman Tuhan, merasa takut atau kuatir.

Alkitab penuh dengan contoh kemenangan sebagai hasil dari iman dan kegagalan sebagai hasil dari keraguan. Yosua dan Kaleb menduduki Tanah Perjanjian oleh karena iman mereka selagi sebagian besar orang sezaman mereka mati di padang belantara oleh karena keraguan mereka (lihat Bilangan 14:26-30). Murid-murid Yesus mendapat pasokan kebutuhan ketika mereka pergi berdua-dua untuk memberitakan Injil (lihat Lukas 22:35), namun mereka pernah gagal mengusir roh jahat karena tak yakin (lihat Matius 17:19-20). Banyak orang menerima mujizat kesembuhan melalui pelayanan Kristus sedangkan orang-orang sakit di kotaNya Nazareth tidak sembuh karena tidak percaya (lihat Markus 6:5-6).

Seperti mereka semua, saya pribadi mengalami keberhasilan dan kegagalan menurut iman atau keraguan saya. Tetapi saya tidak akan bersedih atas kegagalan saya atau menyalahkan Allah. Saya tak akan membenarkan diri saya dengan mengecamNya. Saya tak akan mencari penjelasan teologis yang rumit untuk menemukan kembali ungkapan kehendak Allah. Saya tahu, mustahil kalau Allah berdusta. Sehingga ketika saya gagal, saya bertobat dari ketidakpercayaan saya dan mulai berjalan di atas air sekali lagi. Saya perhatikan, Yesus selalu mengampuni saya dan menyelamatkan saya agar tidak tenggelam!

Keputusan diambil: orang percaya diberkati; orang ragu tidak diberkati! Pelayan pemuridan mengikuti teladan Yesus. Ia sendiri memiliki iman penuh, dan ia mengingatkan murid-muridnya, “Percayalah kepada Allah!” (Markus 11:22). 

--- Bab Empat-Belas (Chapter Fourteen) ---
diambil dari Heaven's Family heavensfamily.org

Comments